Dashboard Statistik Kebudayaan, Pariwisata dan Ekraf Jawa Timur Klik Disini ya!

Jaranan Pogogan : Warisan Seni Tradisional Khas Nganjuk yang berjuang Melawan Kepunahan

Arus modernisasi melaju sangat cepat, pergeseran selera hiburan masyarakat urban, dan keberadaan seni pertunjukan tradisional kerap kali terdesak ke sudut kesunyian. Salah satu permata budaya daerah yang kini tengah berada dalam perjuangan sengit mempertahankan napas kehidupannya adalah Jaranan Pogogan, kesenian rakyat yang berakar kuat di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Upaya penyelamatan warisan adiluhung ini tak lepas dari sosok Eko Kadiono, S.Pd., S.Sn., Pimpinan Sanggar Seni Eko Joyo sekaligus pelestari Jaranan Pogogan Teguh Rahayu dari Dusun Jimbir, Desa Sugiwaras, Kecamatan Prambon. Lewat rekam jejak yang panjang, ia mendedikasikan hidupnya untuk merawat identitas kultural tanah kelahirannya.

Akar Sejarah dan Masa Keemasan
Jejak historis Jaranan Pogogan Teguh Rahayu pertama kali dirintis dan didirikan oleh almarhum Bapak Marijo pada tahun 1956. Kesenian ini awalnya diboyong dari Dusun Ngrandu, wilayah barat Kabupaten Nganjuk, sebelum akhirnya bertunas dan merekah di Dusun Jimbir. Pada era 1950-an hingga 1980-an, Jaranan Pogogan berada di puncak kepopulerannya. Pagelaran ini menjadi daya tarik utama dan hiburan wajib dalam berbagai hajatan warga, ritual syukuran, upacara adat bersih desa, hingga pesta perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Panggung-panggung rakyat riuh oleh gelak tawa dan pukulan irama ritmis yang memikat seluruh lapisan masyarakat.

Awan Kelabu: Senja Kala dan Ambang Kepunahan
Namun, panggung seni tradisi tak selalu redup oleh senja yang damai. Memasuki dekade 1990-an, apresiasi masyarakat terhadap Jaranan Pogogan merosot tajam. Kesenian ini kian meredup hingga berada di ambang kepunahan. Eko Kadiono menuturkan bahwa kepunahan tersebut dipicu oleh akumulasi beberapa faktor krusial:

- Wafatnya Para Seniman Senior : Berpulangnya tokoh-tokoh pembawa ruh tradisi tanpa sempat mentransfer seluruh penguasaan estetika secara masif.
- Migrasi Pemain : Banyak seniman muda yang berpindah daerah untuk mencari penghidupan ekonomi di luar sektor kesenian.
- Invasifnya Hiburan Modern : Kehadiran media televisi, dan genre musik populer.

Estetika Unik: Perpaduan Humor, Gerak, dan Karakter
Etimologi kata pogogan berasal dari istilah lokal pogog (berarti tugel, patah, atau terputus) yang diidentikkan dengan istilah dagel (humor atau jenaka). Karakteristik utama yang membedakan Jaranan Pogogan dari tradisi jaranan lainnya terletak pada pembawaan estetikanya. Gerak tari dalam Jaranan Pogogan sengaja didistorsi dari ragam gerak baku/pakem agar memunculkan kesan lucu dan menggelitik. Sebagai pengganti mahkota (irah-irahan) yang berat dan formal, para penari mengenakan topi bayi atau ikat kepala sederhana. Lebih dari itu, seni ini menuntut kesenimanan yang komplit : seorang penari wajib memiiki keahlian serba bisa mampu menari, menuturkan dialog, melucu, hingga memainkan instrumen gamelan.

Struktur Pertunjukan Tradisional
Dalam pertunjukannya, Jaranan Pogogan menyajikan dramaturgi utuh yang menggabungkan unsur tari, teater rakyat, dan musik tradisional secara berurutan :

1. Genjongan (Tari Pembuka)
Tarian pembuka yang dinamis dengan iringan gending Pangkur, dibawakan oleh penari beriringan dengan melodi dari alunan selompret/sompret.

2. Kepangan (Pogogan)
Inti tarian menggunakan properti kuda kepang, menampilkan karakter prajurit putri, penari bertopi bagus (Sosro/Sasran), serta adegan komedi pogog yang penuh humor spontan.

3. Kucingan & Serati
Tarian topeng menyerupai harimau dengan olah gerak lincah dan eksplorasi level rendah layaknya seekor kucing, diiringi dan diimbangi oleh karakter penari Srati.

4. Klanan (Klono Sewandono)
Babak teater rakyat yang menggambarkan romantika, dinamika, dan problematika kehidupan masyarakat pedesaan.

5. Lakon Semalam Suntuk (Khusus Pertunjukan Malam)
Penyajian kisah pewayangan atau cerita rakyat secara utuh, seperti lakon Ramayana, Mahabharata, maupun epos Panji.

Ansemble Musik Pengiring
Keutuhan aura panggung Jaranan Pogogan ditopang oleh harmoni lima instrumen utama yang ditata secara presisi :
Kendang : Pengendali Ritme
Timplung / Tipung : Aksen Pukulan
Kenong Laras Lu (3) : Penyangga Melodi
Kempul Laras Lu (3) : Gema Pemungkas
Selompret : Melodi Utama
* Keseluruhan instrumen diperkuat dan dipertegas oleh ketukan mantap dari instrumen kepyek.

Asa Masa Depan
Penyulutan kembali api semangat yang sempat redup ini bermula ketika Eko Kadiono menempuh studi di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya pada tahun 2007. Tergerak oleh rasa tanggung jawab kultural, ia melakukan penelitian mendalam, menggali arsip tradisi, serta mengajarkan kembali teknik dan nilai Jaranan Pogogan kepada para pelajar dan generasi muda di lingkungannya. 

"Harapan kami, kesenian Jaranan Pogogan ini bisa kembali dikenal masyarakat luas, diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Kementerian Kebudayaan, serta tidak punah tergerus zaman. Generasi muda diharapkan tidak malu maupun gengsi melestarikan budaya sendiri", pungkas Eko Kadiono, S.Pd., S.Sn.

“Upaya melestarikan Jaranan Pogogan bukan sekadar menjaga sebuah tarian masa lalu, melainkan merawat identitas, kecerdasan lokal, dan rasa humor kolektif warga Nganjuk agar terus bergema menembus benteng zaman”. (UPT. LPPK).