Edukasi Budaya Sinergi KCBI Surabaya dan UPT. LPPK ”Merawat Wastra Nusantara dan Melestarikan Budaya Melalui Seni Karawitan”
MALANG – Melestarikan kebudayaan tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan besar dan seremoni formal. Kecintaan terhadap budaya justru dapat tumbuh dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, mulai dari mengenakan kain tradisional dalam aktivitas sehari-hari hingga mempelajari dan memainkan kesenian warisan leluhur.
Semangat inilah yang tercermin dalam kiprah Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI) Cabang Surabaya, yang pada 21 Oktober 2026 belajar karawitan bersama di ruang gamelan Taman Krida Budaya Jawa Timur yang terletak di Kota Malang. Komunitas ini hadir sebagai wadah untuk mengenal, mencintai, sekaligus melestarikan kekayaan budaya Nusantara. Kiprah komunitas ini menjadi salah satu topik menarik dalam program podcast Bincang Budaya (B3 LPPK).
KCBI merupakan organisasi nirlaba yang didirikan pada 14 Oktober 2014 di Jakarta oleh Sita Hanimastuti. Komunitas ini memiliki perhatian khusus terhadap pelestarian wastra Nusantara, seperti batik, tenun, lurik, dan berbagai kain tradisional Indonesia lainnya. Bagi KCBI, wastra bukan sekadar produk sandang atau warisan kerajinan, melainkan bagian dari identitas dan jati diri bangsa yang perlu terus dijaga keberadaannya.
Upaya pelestarian tersebut diwujudkan melalui gerakan membiasakan masyarakat untuk mengenakan kain tradisional dalam kehidupan sehari-hari. Kain Nusantara tidak hanya digunakan pada acara adat atau kegiatan seremonial, tetapi juga dapat menjadi bagian dari aktivitas modern, seperti bekerja, mengajar, maupun menjalani kegiatan sosial. Dengan demikian, tradisi berkain diharapkan tidak berhenti sebagai simbol masa lalu, tetapi tetap hidup dan berkembang mengikuti perubahan zaman.
Menariknya, KCBI tidak hanya berfokus pada penggunaan kain tradisional. Komunitas ini juga mengembangkan berbagai kegiatan seni dan budaya sebagai sarana mempererat kebersamaan sekaligus meningkatkan kecintaan terhadap warisan budaya Indonesia. Terdapat lima bidang kegiatan utama yang dijalankan, yakni seni tari, karawitan, angklung, dendang Nusantara atau seni tarik suara, serta line dance. Selain itu, KCBI juga aktif menyelenggarakan kegiatan sosial sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan masyarakat.
KCBI menjadi ruang perjumpaan bagi individu dari berbagai latar belakang profesi dan usia. Mulai dari dosen, pengusaha, perbankan, hingga ibu rumah tangga, semuanya dipersatukan oleh kecintaan terhadap budaya Indonesia. Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab pelaku seni atau kalangan tertentu, melainkan dapat dilakukan oleh siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap warisan bangsa.
Salah satu kegiatan yang memiliki makna mendalam bagi para anggotanya adalah seni karawitan. Dalam perbincangan bersama Ibu Tina Swasdini, dijelaskan bahwa kegiatan berlatih karawitan bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu luang ataupun mencari hiburan di tengah kesibukan. Lebih dari itu, karawitan menjadi sarana untuk melakukan nguri-uri budaya, yakni menjaga, merawat, dan melestarikan kesenian tradisional agar tetap hidup serta dikenal oleh generasi berikutnya.
Bagi para anggota, belajar karawitan juga menghadirkan manfaat tersendiri. Aktivitas memainkan gamelan secara bersama-sama dapat menjadi sarana penyegaran pikiran atau refreshing setelah menjalani rutinitas sehari-hari. Kegiatan ini memberikan ruang bagi anggota untuk menyalurkan minat dan bakat seni, termasuk bagi mereka yang telah memasuki masa pensiun agar tetap produktif dan aktif berkegiatan.
Lebih jauh, karawitan juga mengandung nilai reflektif. Keselarasan bunyi yang dihasilkan dari berbagai instrumen gamelan mengajarkan pentingnya keharmonisan, kesabaran, kebersamaan, dan kemampuan menempatkan diri dalam sebuah kelompok. Setiap instrumen memiliki peran masing-masing, tetapi keseluruhannya harus saling melengkapi untuk menghasilkan komposisi musik yang utuh. Nilai tersebut menjadi pembelajaran bahwa kebudayaan tidak hanya menghadirkan keindahan artistik, tetapi juga menyimpan filosofi kehidupan.
Kiprah KCBI Surabaya memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui pendekatan yang menyenangkan, inklusif, dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Mengenakan kain tradisional, berlatih menari, memainkan gamelan, hingga menyanyikan lagu-lagu Nusantara merupakan bentuk nyata keterlibatan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan.
Tantangan pelestarian budaya pada masa kini bukan hanya bagaimana mempertahankan bentuk kesenian dan tradisi, melainkan juga bagaimana menjadikannya tetap relevan dan diminati oleh generasi muda. Oleh karena itu, membangun kebiasaan mencintai wastra Nusantara serta menghadirkan ruang belajar kesenian tradisional menjadi langkah penting untuk memperkuat identitas budaya bangsa.
Melalui semangat kebersamaan yang dibangun KCBI, kita diingatkan bahwa budaya tidak akan lestari hanya dengan mengenangnya, tetapi harus terus digunakan, dipelajari, dipraktikkan, dan diwariskan.
Sebab, mencintai budaya bukan sekadar mengetahui warisan leluhur, melainkan berani menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.
Simak video lengkapnya di tautan berikut : https://youtu.be/nPNefIkoUQE?si=ymkf6qcSZkujVAct
Serta jangan lupa untuk kunjungi laman Instagram kami di UPT. LPPK (https://www.instagram.com/upt.lppk?xtok=eWd0eDYwbGYxYnNt)
Salam Budaya
Lestari Budayaku, Bermartabat Bangsaku
