Dashboard Statistik Kebudayaan, Pariwisata dan Ekraf Jawa Timur Klik Disini ya!

Geliat Langkah Wayang Topeng Jatiduwur, Warisan Budaya dari Kabupaten Jombang

JOMBANG, 25 September 2025 – Program Bincang Budaya Bersama Laboratorium Pelatihan dan Pengembangan Kesenian (B3 LPPK) mengangkat upaya pelestarian Wayang Topeng Jatiduwur, salah satu kesenian tradisional khas Jawa Timur yang tumbuh dan berkembang di Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang. Dalam diskusi tersebut, Sulastri Widiyanti dan Isma Hakim Rahmat, S.TP., S.H., hadir sebagai narasumber yang membahas perjalanan, nilai budaya, tantangan regenerasi, serta berbagai upaya inovatif untuk menjaga keberlangsungan Wayang Topeng Jatiduwur di tengah perkembangan zaman.

Sekilas mengenai topeng, secara historis kesenian wayang topeng atau pertunjukan topeng sudah pernah tercatat dalam Kakawin Negarakertagama (1365), bahwa jaman kerajaan Majapahit, dramatari topeng tersebut dikenal dengan nama "raket", istilah yang masih ban yak digunakan sampai dengan abad XVII, sementara dalam Kidung Sunda istilah "patapelan" muncul kembali untuk menyebut pertunjukan-pertunjukan drama tari topeng (Sal M. Murgiyanto dan A.M. Munardi B.A, 1980:11).

Satu di antaranya adalah yang berada di wilayah Kab. Jombang, terdapat kesenian yang bernama Wayang Topeng Jatiduwur. Memiliki keterkaitan dengan warisan kebudayaan era Majapahit. Secara sajian pertunjukan, kesenian ini menampilkan tari topeng dengan cerita Panji, antara lain tokoh Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji. Cerita yang dibawakan tidak semata-mata menjadi hiburan, tetapi juga mengandung nilai pendidikan dan moral, seperti kesabaran, kejujuran, keberanian, serta jiwa ksatria.

Selaku pelestari dari kesenian Wayang Topeng, Sulastri Widiyanti dan Isma Hakim Rahmat, S.TP., S.H., menyoroti perjalanan panjang Wayang Topeng Jatiduwur yang pernah mengalami masa vakum selama kurang lebih 40 tahun. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan serius bagi keberlangsungan kesenian karena regenerasi pelaku seni belum berjalan secara terstruktur. Kebangkitan kembali kesenian tersebut kemudian didukung melalui berbagai upaya masyarakat dan pelaku seni di Desa Jatiduwur.

Salah satu langkah penting dalam proses regenerasi adalah berdirinya Sanggar Purwo Budoyo pada tahun 2017. Sanggar ini menjadi ruang pembelajaran dan pembinaan bagi generasi muda untuk mengenal serta mempelajari Wayang Topeng Jatiduwur. Anak-anak tidak hanya diajarkan teknik menari, tetapi juga diperkenalkan dengan sejarah, karakter tokoh, cerita, dan nilai-nilai yang terkandung dalam pertunjukan. Upaya tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan adanya generasi penerus yang mampu melanjutkan keberadaan kesenian tradisional tersebut.

Keberadaan Wayang Topeng Jatiduwur semakin memiliki posisi penting setelah pada tahun 2018 ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Status tersebut menjadi penguatan bahwa kesenian yang tumbuh di Desa Jatiduwur memiliki nilai budaya yang perlu dilindungi, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Namun demikian, pelestarian Wayang Topeng Jatiduwur masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah perubahan pola hiburan masyarakat akibat perkembangan teknologi digital. Generasi muda saat ini semakin dekat dengan gawai, media sosial, dan berbagai bentuk hiburan digital. Kondisi tersebut menuntut pelaku seni untuk tidak hanya mempertahankan bentuk tradisi, tetapi juga mencari cara baru agar kesenian tetap menarik dan mudah diterima oleh generasi muda.

Dalam konteks tersebut, pemanfaatan media sosial dan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dipandang memiliki peluang untuk mendukung promosi dan edukasi Wayang Topeng Jatiduwur. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendokumentasikan pertunjukan, mengenalkan tokoh dan cerita Panji, membuat konten edukatif, serta memperluas jangkauan informasi mengenai kesenian kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Selain pemanfaatan teknologi, Sanggar Purwo Budoyo juga mengembangkan gagasan edu-wisata sebagai salah satu strategi pelestarian. Konsep tersebut memungkinkan siswa dan masyarakat datang langsung ke sanggar untuk mengenal Wayang Topeng Jatiduwur melalui kegiatan outing class. Peserta tidak hanya belajar gerakan tari, tetapi juga memperoleh pemahaman mengenai sejarah, filosofi, karakter tokoh, dan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita.

Pendekatan edukasi tersebut dinilai penting agar generasi muda tidak hanya mengenal Wayang Topeng Jatiduwur dari sisi tampilan atau "kulit" pertunjukannya, tetapi juga memahami makna yang terkandung di dalamnya. Tokoh seperti Panji Asmoro Bangun, misalnya, dapat diperkenalkan sebagai figur yang memiliki karakter ksatria dan nilai keteladanan. Nilai-nilai tersebut kemudian dapat dikaitkan dengan kehidupan anak-anak masa kini sehingga cerita tradisional tetap terasa relevan.

Dalam pembelajaran kepada generasi muda, karakter tokoh pewayangan dapat diperkenalkan melalui perbandingan dengan tokoh pahlawan modern yang telah mereka kenal, seperti Superman atau Batman. Pendekatan ini dapat menunjukkan bahwa nilai keberanian, kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, dan jiwa ksatria merupakan nilai-nilai universal yang tetap relevan meskipun zaman terus berubah. Selain karakter dan nilai yang melekat pada tokoh, pengenalan pewayangan juga dapat dilakukan melalui unsur visual, salah satunya penggunaan topeng sebagai representasi karakter tokoh. 

Topeng yang dikenakan, disertai dengan atribut pendukung lainnya, tidak sekadar berfungsi sebagai penutup wajah, tetapi juga membangun kesan tertentu sesuai dengan karakter tokoh, seperti kesan menakutkan, berwibawa, maupun supranatural. Hal tersebut sejalan dengan pendapat R. Soetrisno bahwa penyamaran dilakukan dengan mengenakan topeng yang telah dipersiapkan, yang dapat dilengkapi dengan berbagai atribut untuk memperkuat kesan menakutkan, wibawa, maupun supranatural (R. Soetrisno, 1992:11-12). Dengan demikian, wujud topeng menjadi bagian penting dalam memperkuat identitas, karakter, dan daya ekspresif tokoh dalam pertunjukan.  

Selain tantangan regenerasi dan perkembangan teknologi, aspek ekonomi juga menjadi perhatian. Frekuensi tanggapan atau undangan pertunjukan Wayang Topeng Jatiduwur yang belum menentu menyebabkan pendapatan para pelaku seni belum dapat diandalkan sebagai sumber penghidupan utama. Oleh karena itu, pengembangan kesenian perlu diarahkan tidak hanya pada pelestarian pertunjukan, tetapi juga pada penciptaan ekosistem yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi para seniman.

Konsep edu-wisata, kerja sama dengan sekolah dan lembaga pendidikan, kegiatan penelitian, pertunjukan, festival, serta promosi melalui media digital dapat menjadi alternatif untuk memperluas ruang apresiasi sekaligus membuka peluang ekonomi baru. Dengan demikian, keberadaan sanggar dapat berkembang menjadi pusat pembelajaran dan pengenalan budaya yang tidak hanya melatih penari, tetapi juga menjadi ruang interaksi antara seniman, pelajar, akademisi, dan masyarakat.

Sanggar Purwo Budoyo sendiri telah terlibat dalam berbagai kegiatan dan pementasan, termasuk pertunjukan berskala besar di Taman Mini Indonesia Indah serta berbagai festival yang melibatkan seniman dari luar daerah. Sanggar tersebut juga menjadi salah satu rujukan bagi mahasiswa dan akademisi yang melakukan penelitian mengenai Wayang Topeng Jatiduwur dan kebudayaan lokal Jombang.

Melalui diskusi B3 bersama Sulastri Widiyanti dan Isman Hakim Rohman, S.TP., S.H., terlihat bahwa pelestarian Wayang Topeng Jatiduwur membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Regenerasi, pendidikan budaya, inovasi pertunjukan, pemanfaatan teknologi digital, penguatan promosi, serta pengembangan potensi ekonomi perlu berjalan secara bersamaan.

Wayang Topeng Jatiduwur tidak cukup hanya dipertahankan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi harus terus dihidupkan, dipelajari, dikembangkan, dan diwariskan. Upaya Sanggar Purwo Budoyo bersama masyarakat Desa Jatiduwur menjadi salah satu contoh bagaimana kesenian tradisional dapat tetap bertahan dengan membuka ruang bagi generasi muda sekaligus beradaptasi terhadap perkembangan zaman.

Diharapkan, upaya tersebut dapat memperkuat keberadaan Wayang Topeng Jatiduwur sebagai identitas budaya Jombang dan Jawa Timur, sekaligus menjadi inspirasi bagi pelestarian berbagai kesenian tradisional lainnya yang menghadapi tantangan regenerasi dan perubahan zaman.

Daftar Pustaka : 

Sal M. Murgiyanto dan A.M. Munardi B.A. 1980. Topeng Malang : Pertunjukan Dramatari Tradisional Daerah Kabupaten Malang. Jakarta : Proyek Sasana Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Soetrisno, R.. 1992. Topeng Dhalang Madura. Surabaya : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jatim. 

Untuk video lengkap Podcast B3 LPPK seri Wayang Topeng Jatiduwu, Kab. Jombang dapat disimak di tautan berikut : 
https://youtu.be/vI9TEdfPyDo?si=wrGMboZnQETqxfJ5

Serta jangan lupa kunjungi instagram kami @upt.lppk 
https://www.instagram.com/upt.lppk?stkn=eWd0eDYwbGYxYnNt