Wayang Jemblung Kab. Kediri Bertahan di Tengah Perubahan Zaman
KEDIRI, Jawa Timur – Kesenian tradisional Wayang Jemblung asal Kabupaten Kediri, Jawa Timur, terus berupaya mempertahankan keberadaannya di tengah perubahan selera masyarakat dan perkembangan hiburan digital. Upaya pelestarian tersebut menjadi pembahasan dalam seri Bincang Budaya Bersama (B3) LPPK, melalui wawancara Bambang Dwi Sumanto dari UPT LPPK bersama pelestari Wayang Jemblung, Edy Prasetyo.
Wayang Jemblung merupakan kesenian tradisional yang memiliki kekhasan pada penyampaian cerita melalui tutur, pantun, parikan, serta iringan musik tradisional berbahan kulit. Kesenian ini pernah mengalami masa kejayaan, terutama pada era 1990-an hingga sekitar 2010–2014. Namun, seiring berkembangnya berbagai bentuk hiburan modern dan digital, keberadaan Wayang Jemblung mulai menghadapi tantangan berupa menurunnya minat penonton.
Menurut Edy Prasetyo, salah satu tantangan Wayang Jemblung adalah bentuk pertunjukannya yang dinilai monoton sehingga kurang menarik bagi sebagian masyarakat saat ini. Kondisi tersebut mendorong para pelestari untuk melakukan berbagai inovasi dengan tetap mempertahankan karakter dan ciri khas kesenian tradisionalnya.
Nama “Jemblung” berkaitan dengan tokoh dalam lakon Babat Menak, yaitu Jemblung Marmoyo dan Jemblung Marmadi. Kesenian ini juga memiliki tokoh punakawan khas bernama Kiai Kedrah, yang berperan dalam menyampaikan pesan moral sekaligus memberikan warna tersendiri dalam pertunjukan. Salah satu lakon yang banyak dibawakan adalah Babat Menak, dengan tokoh-tokoh seperti Wong Agung Jayengrono, Adipati Marmoyo, dan Marmadi.
Meskipun mengalami berbagai perkembangan, Wayang Jemblung tetap memiliki fungsi sebagai media penyampaian pesan kepada masyarakat. Cerita dan dialog yang disampaikan dapat menjadi sarana untuk menyampaikan nilai moral, pendidikan, sosial, dan keagamaan. Dengan demikian, Wayang Jemblung tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media tuntunan dan penyampaian nilai-nilai kehidupan.
Dari sisi musikal, Wayang Jemblung memiliki karakter yang khas dan berbeda dari pertunjukan wayang pada umumnya. Iringan tradisionalnya didominasi alat musik berbahan kulit, seperti kendang, terbang, ketuk, dan jedor atau beduk. Jedor menjadi salah satu instrumen penting yang berfungsi sebagai penanda gong sekaligus memberikan tekanan dalam struktur iringan. Perpaduan instrumen tersebut mendukung suasana dan alur tutur dalam pertunjukan.
Untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman, Edy Prasetyo melakukan sejumlah inovasi, antara lain dengan menambahkan instrumen gamelan seperti kenong, saron, dan demung. Pertunjukan juga dikembangkan melalui kolaborasi dengan campursari serta pemanfaatan unsur visual berupa video. Inovasi tersebut diharapkan dapat membuat pertunjukan lebih dinamis dan menarik bagi penonton masa kini tanpa menghilangkan identitas Wayang Jemblung.
Selain inovasi pertunjukan, regenerasi menjadi perhatian penting dalam menjaga keberlangsungan Wayang Jemblung. Edy Prasetyo berupaya mengenalkan kesenian tersebut kepada generasi muda, termasuk siswa sekolah menengah atas. Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah melalui format pertunjukan teatrikal agar proses pengenalan dan pembelajaran Wayang Jemblung menjadi lebih menarik bagi generasi muda.
Pelatihan juga dilakukan secara rutin bagi siswa yang memiliki ketertarikan terhadap kesenian tersebut. Teknik pukulan khas Wayang Jemblung turut diperkenalkan melalui kegiatan lomba musik tradisional dan perkusi. Namun, proses regenerasi masih menghadapi tantangan karena minat generasi muda terkadang belum konsisten. Sementara itu, kemampuan utama dalam Wayang Jemblung membutuhkan proses belajar dan latihan yang cukup panjang.
Kemampuan mendalang, berpantun, melakukan parikan, serta menguasai senggakan merupakan bagian penting yang perlu dipelajari. Senggakan, berupa sahutan atau respons vokal antarpemain, menjadi salah satu unsur yang dapat membangun suasana pertunjukan. Para pemain juga dituntut menguasai pola ketukan masing-masing instrumen agar menghasilkan iringan yang harmonis.
Upaya pelestarian Wayang Jemblung pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan bentuk pertunjukannya, tetapi juga bagaimana kesenian tersebut mampu beradaptasi dengan perkembangan masyarakat. Kreativitas dan inovasi diperlukan agar Wayang Jemblung tetap menarik bagi penonton, sementara nilai-nilai tradisi, karakter pertunjukan, dan pesan yang terkandung di dalamnya tetap terjaga.
Wayang Jemblung menunjukkan bahwa kesenian tradisional dapat terus hidup melalui adaptasi, inovasi, dan regenerasi. Tantangannya bukan sekadar mempertahankan kesenian agar tetap ada, tetapi juga memastikan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan karakter yang terkandung di dalamnya dapat dipahami serta diteruskan kepada generasi berikutnya.
Lestari Budayaku, Bermartabat Bangsaku.
Simak dokumentasi lengkapnya di tautan berikut : https://youtu.be/YQpgPTsWIUQ?si=7WEN_03_1zVcoeoP
