Dashboard Statistik Kebudayaan, Pariwisata dan Ekraf Jawa Timur Klik Disini ya!

Wayang Krucil Gagrak Kediren “Antara Filosofi dan Warisan Tradisi dari Kediri”

KEDIRI — Wayang Krucil Gagrak Kediren merupakan salah satu kekayaan seni tradisi yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Tidak hanya menghadirkan pertunjukan dengan bentuk dan karakter yang khas, kesenian ini juga menyimpan nilai sejarah, filosofi, serta pesan kehidupan yang masih relevan hingga kini.

Salah satu pelaku yang terus menjaga keberadaan kesenian tersebut adalah Ki Dalang Harjito. Dalang generasi ketiga ini meneruskan warisan seni dari sang kakek, Mbah Dalang Siram Atmo Sastro, dan ayahnya, Ki Sucipto Mursikin. Melalui Padepokan Cipto Mudo Laras, berbagai kesenian tradisi, termasuk Wayang Krucil Gagrak Kediren, terus dipelihara sekaligus dikenalkan kepada generasi muda.

Karakteristik Wayang Krucil Kediren

Wayang Krucil Gagrak Kediren memiliki sejumlah karakter yang membedakannya dengan kesenian sejenis. Salah satunya terlihat dari gaya iringan yang berkembang di wilayah Kediri, termasuk perbedaan karakter antara wilayah barat dan timur Sungai Brantas. Dari sisi bentuk, Wayang Krucil memiliki ciri khas berupa bagian tengah wayang yang berlubang dan penggunaan gelung tekes. Sementara dari sisi cerita, lakon yang dimainkan bersumber dari Babad Panji dan Babad Majapahit, yang dalam perkembangannya juga menghadirkan kisah perjuangan tokoh seperti Pangeran Diponegoro dan Trunojoyo.

 

Lebih dari sekadar bentuk dan cerita, Wayang Krucil menyimpan filosofi tentang perjalanan hidup manusia. Ki Dalang Harjito memaknai bahan kayu sebagai kayun, yakni kehendak atau kemauan manusia. Kayu yang masih utuh belum memiliki bentuk dan nilai tertentu. Melalui proses pengukiran yang membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan ketekunan, kayu kemudian berubah menjadi karya seni yang memiliki nilai.

Filosofi Wayang Krucil

Filosofi tersebut menjadi gambaran bahwa kehendak dan hawa nafsu manusia juga perlu dibentuk dan dikendalikan. Jika dibiarkan tanpa arah, kehendak dapat membawa manusia pada kehidupan yang tidak tertata. Sebaliknya, melalui kesabaran, spiritualitas, pengendalian diri, dan ketauhidan, kehendak dapat diarahkan menjadi sesuatu yang lebih baik. Dengan demikian, setiap guratan ukiran Wayang Krucil seolah mengingatkan manusia bahwa membentuk kehidupan membutuhkan proses.

Wayang juga dipandang sebagai sarana untuk mbabar, atau menjabarkan berbagai gambaran kehidupan. Dalang bukan hanya memainkan tokoh dan menyampaikan cerita, tetapi juga menjadi perantara untuk menyampaikan pesan kebaikan kepada masyarakat. Dalam sebuah pertunjukan, pemilik hajat dan dalang diharapkan memiliki kesatuan tujuan agar seluruh proses bermuara pada kebaikan.

Di tengah perubahan zaman dan semakin beragamnya minat generasi muda, pelestarian Wayang Krucil menghadapi tantangan tersendiri. Pertunjukannya kini lebih banyak hadir dalam momentum tertentu, seperti Bersih Desa atau sebagai bagian dari nazar masyarakat. Kondisi tersebut menjadi dorongan bagi para pelaku seni untuk memperluas ruang pengenalan dan regenerasi.

Ki Dalang Harjito terus mendorong pelestarian melalui edukasi kepada generasi muda, pemanfaatan media sosial, serta kolaborasi dengan pemerintah. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya agar Wayang Krucil tidak hanya dikenal sebagai warisan masa lalu, tetapi tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

Wayang Krucil Gagrak Kediren pada akhirnya bukan sekadar tontonan. Ia adalah warisan sejarah, identitas budaya, sekaligus media untuk menyampaikan nilai kehidupan. Dari sepotong kayu yang diukir dengan kesabaran, tersimpan pesan bahwa manusia pun perlu terus membentuk, mengendalikan, dan mengarahkan dirinya menuju kehidupan yang lebih baik. (UPT. LPPK).